Kamis, 26 Maret 2009

Pulang Kampung

Selama 2 minggu berada di kampung halaman terasa sangat menyenangkan. Bertemu dengan sanak keluarga dan orang-orang tercinta di rumah setelah berpisah selama beberapa tahun memeberikan suatu perasaan bahagia tersendiri. Pada hari sabtu tanggal 7 Maret, aku berangkat dari Surabaya dengan pesawat Sriwijaya air menuju Kupang (NTT). Pesawat take off tepat jam 12:00 wib, terlambat selama 2 jam dari jadwal keberangkatan. Aku mengginap satu malam di kupang, tepatnya di penginapan Timor Travel. Hari berikutnya, tanggal 8 Maret, dengan menggunakan mini bus Timor Travel, aku pun berangkat menuju Dili. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Perjalanan dari Kupang menuju Dili memakan waktu kurang lebih 12 jam. Kurang lebih jam 12 siang kami telah tiba di perbatasan mota ain (perbatasan antara TL dengan Indonesia). Dan kurang lebih jam 5 sore waktu Timor Leste kami tiba di Dili. Aku menginap satu malam di Dili, di tempat om saudara sepupu dari papa. Lalu kemudian tanggal 9 Maret dengan bus umum aku menuju tempat kelahiranku di kota Baucau.
***********
Setelah sekian lama meninggalkan Timor Leste, rasanya lega sekali bisa menghirup kembali udara pegunungan Timor Leste. Sepanjang jalan, meski belum terlihat perubahan yang berarti, namun aku tetap bersyukur karena stabilitas keamanan di negara ini telah pulih kembali. Di musim hujan ini, jalan dari perbatasan menuju kota Dili memang sangat memprihatinkan. Ada beberapa jembatan yang putus, tanah longsor hampir di sepanjang carimbala, dan kerusakan-kerusakan yang lain, yang cukup menganggu dan menghambat laju kendaraan. Namun demikian, di tempat-tempat yang rusak tersebut juga telah tersedi para pekerja dan beberapa alat berat yang selalu siap memperbaiki jalan-jalan yang rusak tersebut.
Memasuki kota Dili, terlihat kehidupan yang sebenarnya. Hiruk pikuk kendaraan bermotor dan lalu lalang orang, menandakan bahwa kedamaian telah tercipta kembali di kota ini paska kerusuhan 2006. Geliat ekonomi di Dili pun terus berkembang. Pembangunan dan pengembangan kota pun terus digalakkan. Melihat semua kenyataan ini, ada rasa bangga dan segumpal harapan, bahwa perlahan namun pasti, Timor Leste sedang tumbuh menjadi sebuah negara yang maju dan makmur.

*************************

selama hampir 2 minggu aku berada di Timor Leste. Seluruh waktu aku habiskan di kota kelahiranku Baucau. Tidak ada sesuatu yang penting yang aku kerjakan sepanjang waktu itu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kotaku ini terasa sangat sepi menjelang malam tiba. Di tengah sepinya aktivitas, Diosis Baucau menyelenggarakan pertandingan basket pada setiap hari sabtu dan minggu. Pertandingan yang cukup menghibur bagi penduduk kota Baucau. Di samping itu, pada tanggal 17 sampai 19 Maret, juga diselenggarakan berbagai macam kegiatan, seperti panjat pinang, lomba antara ben musik, tari-tarian, balap sepeda, dan konser dari grup ben musik sinco de oriente. Selama 3 hari itu, suasana kota memang terlihat sangat ramai. Banyak orang berkumpul dari berbagai kota di luar kota Baucau. Acara yang cukup menghibur, di tengah-tengah mandeknya aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah setempat.
Disamping itu, aku dan sekeluarga juga jalan-jalang menenggok nenek di sub distrik Laga, kurang lebih 20 km dari kota Baucau. Seharian kami berada di sana, sambil bertukar cerita, dan menanyakan keadaan satu sama lain selama perpisahaan terjadi diantara kami.
Akhirnya setelah hampir 2 minggu berada di Timor Leste, aku pun kembali lagi ke Surabaya. Rasanya cepat sekali, namun tetap memberikan kesan yang mendalam. Aku kembali ke Surabaya dengan tujuan untuk mendaftar wisuda yang akan diselenggarakan pada tanggal 2 Mei nanti. Dan aku bersyukur karena sudah mendaftar, dan sekarang hanya menunggu untuk diwisuda.

Sabtu, 21 Februari 2009

IBU
Aku terbayang wajahnya
wajah seorang ibu yang sangat aku sayangi
wajah seorang ibu yang telah mengorbankan segala hidupnya
untuk menjadikan aku sebagai seperti saat ini

seorang ibu yang telah menyediakan rahimnya bagi kehidupanku
seorang ibu yang telah memberikan air susunya bagi pertumbuhanku
seorang ibu yang selalu membelai diriku ketika malam menjelang tidur
seorang ibu yang selalu mendoakanku dan selalu mengiringi setiap jengkal langkah kakiku menuju masa depan.

kini wajah ibu telah menua seiring bertambahnya usia
wajah yang terlihat kusut, tatapan mata yang selalu tampak kosong
terlihat jelas di gurat wajahnya, penderitaan yang panjang dan berat
terlihat jelas derita hidupnya, meski terus disembunyikannya
terasa benar beban hidupnya, beban yang telah lama dipikulnya, namun tetap sabar menghadapinya.

aku terbayang wajah ibuku
wajah yang selalu terlihat cantik, walau telah di makan usia
aku terbayang wajah ibuku
wajah yang selalu memancarkan cinta dan kasih sayangnya, walau sedang memikul derita dan sakit yang sangat berat.
aku terbayang wajah ibuku
Dan aku bersyukur aku masih bisa merasakan kasih sayangnya.TC
PENYEBAB BANYAK UTANG
gaya hidup mahasiswa pemboros

Hidup jauh dari orang tua, apabila tidak memiliki manajemen diri yang baik, akan menimbulkan banyak kesusahan. Ketika hidup sendiri, tentu kita kekuasaan atas hidup kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa membatasi ataupun melarang apa yang kita lakukan. Kita mau melakukan apa, membeli apa, menghabiskan uang untuk apa, semuanya tergantung pada kita. Melalui tulisan ini, saya mencoba memaparkan beberapa kebiasaan mahasiswa rantau, terutama mereka yang ngekos, yang menyebabkan mereka selalu mengeluh tentang kesulitan uang. Padahal mereka selalu mendapatkan kiriman setiap bulannya, tetapi tidak pernah dipergunakan dengan baik atau semestinya. Berikut ini adalah beberapa kebiasaan mahasiswa yang saya lihat dan saya amati selama ini.
  • Uang selalu dihabiskan untuk membeli pulsa (punya banyak sim-card). 1 bulan saja bisa menghabiskan sebanyak Rp 200.000-Rp 500.000.
  • Uang selalu dihabiskan untuk rokok (terutama mahasiswa pria).
  • Uang selalu dihabiskan untuk jalan-jalan ke luar kota.
  • Uang selalu dihabiskan untuk membeli barang-barang baru (pakaian, HP, dan lain-lain).
Tentu masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang lain yang tidak saya ketahui. Tapi akibat dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, maka kebanyakan dari mahasisw tersebut adalah mengorbankan sesuatu yang lain, yang semestinya mereka dahulukan, seperti uang makan, uang kos, SPP, dan sebagainya (terpaksa utang dulu), demi memenuhi dan memuaskan ego masing-masing individu yang sebenarnya tidak memiliki manfaat atau nilai tambah sama sekali.

Jumat, 20 Februari 2009

KIRIMAN TERLAMBAT, NO PROBLEM
HIDUP AMAN ALA MAHASISWA RANTAU
OLEH: Toze Cunha

Hidup merantau di negeri orang, jauh dari orang tua, sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai adalah suatu keadaan yang sangat berat. Namun demi untuk mengapai hidup dan masa depan yang lebih baik, orang rela melepaskan semua kenyamanan yang mereka miliki, untuk kemudian hidup dalam suatu kondisi yang kadang terasa sungguh menyedihkan. Apalagi, untuk bertahan hidup dan mengapai impian tersebut, mereka masih tetap mengandalkan kirima uang dari orang tua atau pun sanak keluarga mereka. Dan biasanya situasi semacam ini selalu di hadapi oleh para mahasiswa rantau, terutama mereka yang mengandalkan orang tua. Ada saja masalah yang dihadapi oleh para mahasiswa tersebut. Disamping masalah tugas kuliah yang kadang menumpuk, keterlambatan kiriman uang juga menjadi salah satu masalah serius yang sering dihadapi. Bagi mereka yang bisa mengatur cash flow keuangannya, tentu tidak akan menjumpai banyak masalah ketika kiriman uang dari orang tua tidak teratur, karena alokasi uang yang mereka gunakan sesuai dengan kebutuhan dan bermanfaat. Tapi bagi mereka yang tidak pandai mengatur cash flow keuangan mereka, selalu menjumpai masalah, apalagi ketika di tengah bulan mereka kehabisan uang, dan akibatnya, utang sana-sini.

Memang tidak mudah setiap mahasiswa untuk mengatur keuangan mereka dengan baik. Apalagi jika kiriman uang yang diterima tidak mencukupi bagi kehidupan sehari-hari. Namun demikian, ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh setiap orang agar tidak mengalami kehabisan uang di tengah bulan. Berikut ini adalah tips atau cara yang dapat digunakan untuk menghindari kehabisan uang ketika kiriman dari orang tua terlambat atau Anda dapat menabung untuk keperluan yang lain.
  1. Manajemen amplop. Cara ini dilakukan dengan menyisihkan sedikit uang Anda yang digunakan selama satu minggu sebanyak Rp 5.000 di setiap akhir minggu (Rp 1.000 x 5 hari = Rp 5.000). Jadi, dalam satu minggu Anda memiliki tabungan sebesar Rp 20.000. Berarti dalam 1 tahun bisa mendapatkan Rp 240.000 (Rp 20.000 x 12 bulan).
  2. Manajemen aqua. Cara ini dilakukan dengan menyisihkan setiap uang logam yang Anda miliki (Koin, Rp 100 - Rp 500) ke dalam botol aqua, aquase atau celengan, sebanyak yang Anda miliki. Katakanlah dalam waktu 1 bulan koin yang terkumpul sebesar Rp 50.000. Jadi dalam 1 tahun bisa mendapatkan Rp 50.000 x 12 bulan = Rp 600.000/tahun.
  3. Sisihkanlah sebagian uang kiriman dari orang tua yang Anda terima setiap bulannya dari Rp 50.000, tergantung berapa kiriman orang tua Anda. Jika kirimannya kurang dari Rp 1.000.000, maka sisihkanlah sebesar Rp 50.000. Jika kirimannya antara Rp 1.000.000-Rp 2.000.000, maka sisihkanlah sebesar Rp 100.000. Dan jika kirimannya lebih dari Rp 2.000.000, maka sisihkanlah antara Rp 150.000-Rp 200.000. Uang itu dapat di simpang di amplop yang berbeda. Katakanlah setiap bulan Anda mendapatkan kiriman dari orang tua sebanyak Rp 2.000.000/bulan. Berarti Anda harus menyisihkan sebanyak Rp 100.000/bulan. Dengan demikian dalam 1 tahun Anda akan mendapatkan uang sebanyak Rp 1.200.000.
Berdasarkan perhitungan di atas, setiap bulannya Anda bisa menabung sebesar Rp 20.000+Rp 50.000+Rp 100.000 = Rp 170.000. Berarti dalam 1 tahun Anda mendapatkan uang tabungan sebesar Rp 2.040.000/tahun. Andaikan uang Anda itu tidak pernah digunakan selama Anda masih kuliah (maksimal 5 tahun kuliah), maka Anda akan memiliki tabungan sebesar Rp 8.160.000. Uang sebanyak itu bisa menjadi modal bagi Anda ketika telah lulus dari kuliah nanti.

Cara-cara ini terbukti sudah sangat membantu saya, ketika orang tua sedang mengalami kesulitan keuangan. Sayang saya tidak mampu menjaga uang saya selama itu. Ketika itu sedang terjadi kerusuhan besar di Dili, Timor Leste, seluruh tabungan saya terkuras habis, akibat dari kesulitan orang mengirimkan uang. Akibat dari itu, bank Mandiri, yang merupakan satu-satunya bank asal Indonesia yang ada di Timor Leste pun tutup hampir selama 2 bulan. Ketika itu uang yang berhasil saya tabung sebanyak Rp 1.500.000, dan dalam waktu 2 bulan semua habis saya gunakan untuk menutupi kekurangan yang ada. Dan pelajaran yang dapat saya petik dari kejadian ini adalah hasil tabungan saya selama hampir 1 tahun lebih telah menyelamatkan saya, minimal untuk bisa sekedar membeli nasi 1 piring tanpa harus ber-utang sana-sini.
Demikian, semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman mahasiswa semua, terutama para mahasiswa rantau untuk bisa selalu hidup hemat. Habiskanlah uang Anda untuk sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau nilai tambah bagi perkembangan pribadi Anda sebagai seorang intelektual. Selamat mencoba.

Selasa, 10 Februari 2009

UNDANG-UNDANG PENSAUN VITALISIA
LEBIH MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN ORANG BESAR DARI PADA RAKYAT
Apakah Nurani Pemimpin Timor Leste
Telah Mati?
By: A.Jose C. Da Cunha

Membaca beberapa artikel di forum-haksesuk.blogspot.com, tentang draft undang-undang yang diajukan oleh beberapa petinggi di Timor Leste untuk mendapatkan fasilitas dan kemudahan bagi kehidupan mereka ketika masa pensiun tiba memang sangat mengejutkan saya. Di tengah banyaknya masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, para pemimpin bangsa ini bukannya berusaha untuk menyusun draft undang-undang (UU) yang berpihak pada rakyat banyak, tapi malah menyusun sebuah draft UU yang lebih mengutamakan kepentingan mereka di masa tua mereka (pensiun). Memang wajar dan adalah sebuah kewajiban jika negara menghargai para pemimpin bangsa yang pernah memerintah dan mengabdi untuk kemajuan dan kemakmuran sebuah bangsa. Namun akan menjadi tidak wajar lagi ketika kita melihat situasi dan kondisi ekonomi masyarakat Timor Leste yang masih di berada di bawah rata-rata standar kehidupan. Ketika rakyat masih menderita, ketika seorang suami masih berjuang hanya untuk mendapat sepering nasi bagi makan keluarganya, ketika para orang tua masih terus memikirkan jalan yang terbaik bagi pendidikan anak-anak mereka, dan ketika masa di mana orang-orang (rakyat) masih sangat sulit untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kita malah dikejutkan oleh ambisi memperkaya diri para pejabat bangsa ini. Dengan menggunakan kekuasaan yang mereka miliki, para pemimpin negeri ini malah menyusun sebuah draft UU yang mengatur tentang hari tua mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata draft UU ini telah disetujui pada tahun 2007. itu berarti setelah 2 tahun baru publik mengetahuinya. Mungkingkah para pemimpin bangsa ini sengaja menyebunyikannya? semoga tidak.

Sungguh menyedihkan membaca realitas yang terjadi. Masih adakah nurani para pemimpin bangsa ini? Jika para pemimpin bangsa ini memiliki nurani, tentunya mereka tidak akan menuntut sesuatu yang lebih, ketika melihat rakyat yang telah menjadikan mereka sebagai orang besar dan hebat masih menderita dan menanggis menahan lapar. Sungguh tidak mulia ambisi yang dimiliki oleh sebagian dari para pemimpin bangsa ini. jika demikian, timbul sebuah pertanyaan dalam benak, apakah nurani para pemimpin bangsa ini telah mati?
Mantan Perdana Menteri Timor Leste Mari'i Alkatiri menerima uang pensiun sebesar US$ 612.000.000. Wow...itu sebuah angka yang fantastis, bagi sebuah negeri kecil yang masih bergantung banyak pada bangsa lain. Uang itu sangat banyak jika hanya diberikan kepada satu orang saja. Bayangkan, tidak hanya uang yang mereka terima, tapi mereka juga masih mendapatkan sejumlah fasilitas yang akan memanjakan hidup mereka pada hari tua nanti. Di manakah nurani para pemimpin bangsa ini? apakah mereka kira bahwa saat ini rakyat Timor Leste telah keluar dari kemiskinan dan kebodohan? Apakah mereka berpikir bahwa mereka telah sukses membangun dan mengsejahterakan kehidupan rakyat Timor Leste pada umumnya? bukankah akan lebih baik jika uang sebanyak itu untuk sementara digunakan bagi pemberdayaan masyarakat miskin yang saat ini masih hidup dalam kesusahan? membuka lapangan kerja yang memadai, sehingga tidak ada lagi pengangguran? meningkatkan kualitas pendidikan dalam negeri, sehingga dapat mengentaskan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan? mengembangkan kompetensi generasi muda yang berprestasi di bidang olah raga, sehingga dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional? tapi, yah...mau bagaimana lagi? mungkin ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki pengaruh atau kekuatan untuk menggugat dan membatalkan draft undang-undang yang telah di sahkan tersebut.

Sungguh sangat menyedihkan, bila nurani para pemimpin bangsa ini telah mati. Entah apa yang sedang mereka rencanakan untuk masa depan negara ini? Akan kemana mereka membawa rakyat bangsa ini di masa yang akan datang? rakyat telah banyak mengalami penderitaan dan kepahitan hidup. Penderitaan dan kepahitan yang timbul dari ambisi para pemimpin untuk memuaskan nafsu dan kenyamanan diri sendiri. Di tengah-tengah dunia yang masih mengalami krisis ekonomi, para pemimpin bangsa ini malah mengesahkan sebuah draft UU yang sangat menyakitkan hati semua rakyat Timor Leste dan tidak rasional. Bahkan Amerika Serikat (AS) saja, yang merupakan kiblat ekonomi dunia, di tengah-tengah krisis ekonomi ini, memotong sebagian gaji para eksekutifnya, baik itu yang ada di pemerintahan maupun para CEO yang ada perusahaan-perusahaan besar semacam General Motors (GM). Bayangkan, negara kaya saja melakukan pemotangan disana-sini bagi para ekseskutifnya. Para pemimpin di Timor Leste malah menyusung mengesahkan sebuah UU untuk memperkaya diri mereka. Kongres AS meloloskan stimulus ekonomi yang diajukan oleh presiden Barack Obama sebesar US$ 787 milliar yang digunakan untuk mengurangi angka pengangguran yang terus meningkat di tengah-tengah krisis yang melanda, pemotongan pajak, pembangunan jalan, jembatan dan sebagainya. Jika pemerintah AS saja melakukan seperti itu, menggapa pemerintah Timor Leste tidak bisa melakukan hal yang sama? Bukankah Timor Leste saat ini menggunakan dollar AS? mata uang dari negara adi daya yang saat ini sedang tergoncang ekonominya? Di sini, saya tidak mencoba untuk menyamakan Timor Leste dengan AS. Karena tentu antara kedua negara ini bagaikan bumi dan langit. Tapi, saya hanya ingin mengatakan bahwa negara yang mata uangnya (US$) kita gunakan saja para pemimpinnya (Presiden Barack Obama) berupaya melakukan penyelamatan di sana-sini (dana talangan) dengan mengurangi gaji para pejabatnya, kok di Timor Leste para pemimpinnya malah berupaya memperkaya diri mereka.

Sebagai sebuah bangsa kecil yang bebas merdeka, TImor Leste sangat beruntung sebagai sebuah negara. Beruntung karena, mungkin Timor Leste adalah satu-satunya negara yang menggunakan dollar AS. Sebuah mata uang yang memiliki nilai maupun pengaruh sanggat besar bagi sistem perdagangan internasional, terutama perdagangan di negara-negara berkembang. Entahlah, sampai kapan Timor Leste akan terus mengunakan dollar AS ini. Apakah pemimpin bangsa ini telah memikirkan bagaimana Timor Leste di masa yang akan datang, jika suatu saat nanti tidak lagi menggunakan mata uang dollar AS. Atau mungkin juga para pemimpin Timor Leste telah memikirkannya dan tahu bahwa masa itu tidak lama lagi akan tiba, sehingga mereka cepat-cepat menyusun sebuah draft undang-undang, yang pada akhirnya nanti dapat menyelamatkan mereka ketika masa itu tiba (Saat Timor Leste tidak lagi memakai US$). Dan membiarkan rakyat Timor Leste terus hidup dalam kemiskinan sama seperti masyarakat Zimbabwe, di mana mata uangnya yang digunakan hanya untuk membeli satu potong roti saja tidak cukup? Jika pun suatu hari nanti Timor Leste tidak lagi menggunakan dollar AS, maka kiranya itu tidak akan membuat bangsa ini jatuh terpuruk ke dalam jurang yang sangat dalam. Akan sangat mengerikan, apalagi penyebabnya karena keserakahan para pemimpin bangsa ini.

Saya berharap agar para pemimpin bangsa ini, bisa menggunakan nurani mereka dengan jujur dan menyadari bahwa keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan yang mereka ambil pada dasarnya untuk kepentingan rakyat banyak. bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan mereka. Saya berharap para pemimpin bangsa ini, mau merenungkan kembali tujuan perjuangan bangsa ini menuju kemerdekaan. Apakah perjuangan mengapai kemerdekaan bangsa ini hanya untuk mewujudkan kepentingan segelintir orang sajakah? ataukah untuk kepentingan rakyat Timor Leste pada umumnya? Jawabannya ada pada para pemimpin itu sendiri. Karena saat ini, sebagian besar dari para pemimpin bangsa ini adalah orang-orang yang dulu berada di balik perjuangan bangsa Timor Leste mengapai kemerdekaan. Semoga mata hati pemimpin negeri ini belum tertutup untuk terus memikirkan kemakmuran rakyat dan pembangunan bangsa ini. Dan semoga pemimpin bangsa ini bisa membangun sebuah pondasi yang kokoh bagi generasi berikutnya yang akan melanjutkan perjuangan mereka bagi kemajuan bangsa ini. Saya menyadari bila setiap generasi pasti memiliki masa yang berbeda denga segala macam problematikanya sendiri-sendiri, namun jika generasi berikutnya mewarisi sebuah pondasi yang tidak kokoh dari generasi saat ini, maka perlahan namun pasti bangsa ini hanya akan menunggu masa jatuhannya tiba. Jika demikian, lalu apa gunanya perjuangan dan pengorbanan yang selama ini telah ada? akhirnya, mudah-mudahan nurani para pemimpin Timor Leste belum mati dan tidak akan pernah mati. Amin.


Rabu, 28 Januari 2009

HIDUP DAN MIMPI MAHASISWA KOS
Hidup sebagai mahasiswa kos memiliki banyak suka dan dukanya. Apalagi sebagai mahasiswa yang merantau dan jauh dari orang tua serta sanak famili. Hidup sendiri di negeri orang tentu sangat tidak menyenangkan, tapi apapun itu harus tetap dijalani, demi mengapai impian dan masa depan yang lebih baik. Namun demikian ada banyak pelajaran mengenai hidup yang dapat kita petik dari kesendirian ini. Kesendirian dalam merajut mimpi, mengasah asa, dan menuai sukses. Ketika kita hidup sendiri, kita akan belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia yang mandiri. Belajar tentang bagaimana mengatur waktu (seperti waktu untuk belajar, waktu jalan-jalan, waktu makan, waktu tidur, dan lain sebagainya). Dan selain itu, kita juga belajar untuk mengatur keuangan, agar tidak habis di pertengahan bulan. Dan banyak pelajaran hidup lainnya yang dapat kita petik dari kesendirian dan kemandirian kita.

Surabaya adalah salah satu kota di mana saya menjalani hari-hari saya dalam kesendirian dalam merajut mimpi, mengasah asa, dan menuai sukses. Surabaya kota metropolitan yang panas, kota yang sedikit semrawut, namun telah memberikan dan mengajarkan pada saya banyak hal tentang apa dan bagaimana seharusnya seseorang menjalani kehidupan. Di Surabaya, saya tumbuh dan belajar mengenai banyak hal. Di Surabaya, saya mengenal, melakukan dan mengalami banyak hal baru. Surabaya adalah kota yang telah membentuk karakter dan pribadi, cara berpikir saya, dan cara pandang saya tentang sebuah kehidupan yang keras. Orang-orang di kota ini telah membuat saya terkesan, bahwa pada dasarnya masyarakat kota Surabaya adalah masyarakat yang sangat menghargai perbedaan. Selama bertahun-tahun tinggal di kota saya tidak pernah mengalami atau melihat masalah-masalah atau konflik yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras secara frontal. Ibarat pepatah mengatakan "walaupun kelihatan sanggar dari luar, tapi terasa lembut dan damai di dalam". Bapak kos saya, pak Samidi namanya, adalah contoh orang Surabaya yang sangat menghargai perbedaan. Walaupun dia beragama Islam, tapi hampir sebagian besar anak kosnya adalah beragama Katolik. Tidak hanya itu, selain beragama Katolik, anak-anak kosnya juga berasal dari luar Jawa. Dan dia baik-baik saja dengan keadaan semacam itu. Hubungan diantara anak kos dan bapak kos sangat akur. Selain itu, ada juga seorang ibu yang sangat baik hati, yaitu ibu Sumeh. Ibu ini adalah seorang ibu yang sangat baik hati. Saking baiknya, beliau tidak tega melihat anak kos-terutama anak rantau mengeluh kelaparan. Hal itu di perlihatkannya dengan mengijinkan anak kos untuk meng-utang, ketika para mahasiswa kos sedang kehabisan duit. Ini hanyalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak contoh lain tentang kebaikan masyarakat Surabaya.

Dari hari ke hari, kebutuhan hidup di kota ini terus melambung. Mulai dari makanan, tarif angkot, keperluan pribadi, semuanya semakin mahal. Semua ini merupakan imbas dari krisis ekonomi global yang melanda negara super power Amerika Serikat belakangan ini. Dan juga karena melambungnya harga minyak dunia. Meskipun saat ini harga minyak dunia telah jauh menurun. Dan meskipun pemerintah telah menurunkan harga minyak, namun di pasar, tidak ada perubahan yang signifikan. Harga-harga masih tetap tinggi. Tentu hal memiliki dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi masyarakat kecil pada umumnya, tapi juga bagi mahasiswa-mahasiswa yang indekos seperti saya. Semenjak saya di Surabaya, sedikitnya saya sudah mengalami 3-4 kali kenaikan tarif hidup. Dan ketika harga telah dinaikkan, maka akan sangat sulit untuk turun kembali ke harga semula. Masalah-masalah ini mau tidak mau memaksa setiap mahasiswa kos perantauan, terutama bagi yang setiap bulannya selalu mendapatkan kiriman terlambat dari orang tua, harus benar-benar melakukan penghematan. Bayangkan, akibat dari melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, biaya hidup para mahasiswa kos pun ikut meningkat. Saya ambil contoh, jika pada bulan-bulan/tahun-tahun sebelumnya, seorang mahasiswa hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 250.000/., untuk biaya makan, maka saat ini bisa menjadi Rp 350.000/bulan. Itu adalah biaya yang sudah maksimal bagi mahaiswa kos untuk makan dua kali sehari, dan bagi mereka yang sudah benar-benar hemat, dengan rincian biaya makan Rp 12.000/hari. Itu hanyalah salah satu contoh dari penghematan. Bahkan mungkin biaya Rp 12.000/hari itu bagi sebagian orang sudah sangat tinggi.

Selama bertahun-tahun tinggal dan kuliah di Surabaya, saya telah mengalami banyak pengalaman hidup sebagai anak. Saya mengenal banyak orang, dengan segala macam tabiat dan watak mereka. Mulai dari mahasiswa anak orang berduit sampai dengan mahasiswa anak orang tak punya. Mereka semua hadir dengan kepentingan dan gaya hidup yang berbeda-beda, walaupun memiliki status yang sama sebagai mahasiswa. Saya mencoba menggambarkan pandangan saya tentang para mahasiswa tersebut ke dalam tiga kategori besar. pertama: Mereka yang berasal dari keluarga kaya, anak-anak pejabat, dan sebagainya. kedua: Mereka yang berasal dari keluarga menengah. ketiga: Mereka yang berasal dari keluarga bawah. Mengapa saya membagi demikian? karena berdasarkan pengamatan saya dan pengalaman yang saya rasakan, demikianlah kenyataanya.
Bagi mahasiswa kos yang berasal dari keluarga kaya, Pada umumnya kebutuhan selalu terpenuhi. Mereka mempunyai uang (milik orang tua) yang berlimpah. Gaya hidup mereka selalu mengikuti trend perkembangan anak muda (anak gaul). Para mahasiswa kaya pada umumnya tidak terlalu peduli dengan studi mereka. Memang tidak semu anak orang kaya suka hidup berfoya-foya, tapi kebanyakan dari mereka memang seperti itu.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga menengah, pada umumnya tidak terlalu melarat. Kelompok ini memiliki uang, tapi cukup untuk menghidupi mereka sebagai mahasiswa rantau yang indekos. Mereka juga kadang suka meniru-niru gaya hidup dan perkembangan trend terbaru. Tapi tingkah polah mereka tidak terlalu menonjol seperti mahasiswa kaya. Kalaupun mereka bisa bergaya, itu karena mereka telah mengorbankan hampir sebagian uang mereka untuk hal tersebut. Jika kelompok anak orang kaya mampu melunasi semua kebutuhan mereka setiap bulan dan tetap bergaya, maka kelompok menengah ini harus mengorbangkan kebutuhan yang lain dan mengutamakan kebutuhan yang lainnya lagi. Biasanya kelompok suka menunda-nunda pembayaran kos, suka utang di warung makan, suka menunggak SPP, dsb. Lalu uang yang ada di pakai untuk bergaya dan berfoya-foya. Kelompok meskipun bergaya, tapi mereka masih lebih mengutamakan kewajiban utama mereka sebagai seorang mahasiswa.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga bawah, mereka ini benar-benar bisa dikatakan hidup nekad di tanah rantau. Kelompok ini benar-benar hidup serba kekurangan. Dengan kekurangan yang mereka miliki, mereka pun merantau guna mengapai mimpi mewujudkan asa untuk masa depan yang lebih baik. Kelompok ini benar-benar hidup hemat. Kalaupun mereka bisa bergaya dengan anak-anak orang kaya, pada dasarnya mereka hanya menjadi parasit. Tapi satu keunggulan dari mereka adalah rata-rat dari mereka memiliki prestasi belajar yang sangat baik. Kelompok ini terkadang menerima kiriman biaya hidup dari orang tua, kadang 3-4 bulan. Banyangkanlah bagaimana mereka harus benar-benar berhemat? Jika mereka masih tetap mau bergaya atau berfoya-foya, maka secara perlahan-lahan mereka telah membunuh orang tua mereka.

Saya tidak ingin membedakam-bedakan orang. Tapi pada kenyataanya memang ada orang kaya dan miskin. Begitulah realitas hidup. Tidak terkecuali bagi mahasiswa di perantauan. Terkadang sebagian orang bilang, hidup di Jawa itu enak. Segalanya tersedia. Mulai dari hal-hal yang paling buruk sampai dengan hal-hal paling baik. Dan bagi mereka yang mempunyai uang tentu semua itu bisa didapatkan, bukan? itu benar. Benar bagi mereka yang memiliki uang. Sedangkan bagi mereka yang tidak, tentu mereka harus penuh perhitungan. Hidup jauh dari orang tua memang mampu memberikan kebebasan bagi kita. Akan tetapi bila kebebasan itu kita salah gunakan, maka pada akhirnya tidak akan memberikan hasil apa-apa bagi perbaikan kehidupan kita di masa depan. Akhirnya, "Tidak ada nikmat yang lebih mulia selain mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dan kita raih serta terus berjuang dalam merajut mimpi, mengasah asa, dan menuai sukses, bagi masa depan yang lebih baik". Bukan begitu choy?....TjC.


Senin, 26 Januari 2009

SEPI DUNIAKU

Dalam sepi, hari-hari terasa menyesakkan

dalam sepi, waktu terasa lama berputar

hidup terasa lambat dalam harap mengapai asa


dalam sepi, kesunyian malam, dingin menerpa

kurasakan detak jantung berpacu kencang mengejar harap

dalam rebah raga sendiri terbalut dingin lantai kamar kos ku


Aku terbaring dalam kesunyian, kesepian dan kesendirian melewati hari-hariku

khayalku melayang, imajinasiku menari,

membayang penuh harap pada bahagia hari esok


Dalam sepi, rinduku mengebu

membayang asa bahagia keindahan esok

dalam sepi, harapku membara

membakar semangat mengapai impian


Duniaku sepi, duniaku sunyi, duniaku sendiri

duniaku bahagia, duniaku bercahaya, duniaku indah

di kamar kosku, aku membangun duniaku

melukis keindahannya, mewarnai keceriaannya


Duniaku, dunia impian

dunia yang terbentuk dari kesepianku, kesunyianku, dan kesendirianku.

dunia yang berjalan dalam khayal dan imajinasiku

akan kedamaian dan kebahagiaan hidup. By: Toze Cunha



KAU

Kau.....

yang pernah hadir dan mengisi hari-hariku

yang pernah memeluk dan menghangatkan tubuhku

yang pernah menangis dan tertawa dalam dekapanku

Kau.....

yang pernah mencinta dan memuja diriku

yang pernah membenci dan menghujat hidupku

yang pernah mencabik dan melukai batinku

Kau.......

walau tak lagi ada hadirmu

walau tak lagi ada peluk dan hangat tubuhmu

walau tak lagi ada belai dan cium mesramu

walau tak lagi ada tangis dan tawamu

walau tak lagi ada cinta dan pujamu

kenangan tentang dirimu akan tetap abadi. By: Toze Cunha